Masa Kuliah

Dengan ijasah SMA Jurusan Sosial, si remaja yang telah menjadi pemuda ini, mendaftar di Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya. Dengan pengalaman selama di SMA yang lebih suka membaca buku silat daripada buku pelajaran, si pemuda akhirnya memiliki prinsip:

"Belajar pasti lulus, tapi tidak belajar pun tetap lulus. Ya mending tidak belajar. Toh lulus juga" 

Sebuah prinsip yang baik untuk tidak ditiru oleh anak-anak muda masa kini. Istilah ini supaya terkesan positif, bahwa segala sesuatu itu baik, tetapi ada yang untuk diteladani dan ada yang bukan untuk diteladani.

Memang, si pemuda tidak pernah mengulang dalam mengikuti ujian semua mata pelajaran yang ada, tetapi nilai A hanya satu yaitu pelajaran agama, nilai B ada sedikit, dan sisanya nilai C. Si pemuda ini akhirnya masuk ke Jurusan akuntansi, sebagaimana saran dari mbak temannya yang selalu diingat. 

Namun, orang tua si pemuda menjalani pensiun dini saat si pemuda belum menamatkan kuliahnya. Satu hari, si pemuda membaca sebuah iklan, sebuah Bank Pemerintah membutuhkan lulusan Sarjana Muda Akuntansi. Mengingat, orang tuanya yang sudah pensiun itu masih harus menyekolahkan adik-adiknya, dimana 3 adik-adiknya masih di SMP dan SMA, si pemuda mengirim lamaran ke kantor pusat Bank Pemerintah itu di Jakarta. Ternyata karena kebutuhan tenaga Sarjana Muda Akuntansi itu mendesak, ujian pengetahuan umum dan psikotest dan test kesehatan dilakukan secara berturut-turut, sehingga si pemuda tidak harus menunggu lama di Jakarta. Si pemuda diterima di Bank Pemerintah yang bernama Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) sebagai Junior Auditor dengan pangkat 2C (pejabat non staf tertinggi tanpa dasi).

Apabila pada saat itu dikenal dengan istilah dosen terbang, maka si pemuda itu menjadi mahasiswa terbang untuk ujian di Palembang. Dia akhirnya lulus dan menjadi Akuntan dengan nomor register D-1374. Ketika disesuaikan di bank tempatnya bekerja, pangkatnya dinaikkan 2 tingkat, dari 2C menjadi 3B, karena pada saat itu Akuntan masih langka.