Berbagi Adalah Bukti Dari Mental Kelimpahan
Saya ingin berbagi sebuah kisah pribadi sebagai sebuah kesaksian. Setelah saya memilih pensiun sukarela atau pensiun dini, saya sudah bisa memiliki lima rumah, walaupun semuanya berada di pinggiran kota Jakarta, bahkan empat rumah berada di wilayah Tangerang dan satu rumah di Bogor. Semua dari pengelolaan gaji dan memanfaatkan kredit karyawan dari bank.
Pada saat saya memilih untuk mengambil pensiun dini, dua dari anak-anak saya masih menyelesaikan sekolah lanjutan atas (high school) di kota New York Amerika Serikat, dan anak yang bungsu masih berada di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).
Simpanan dan uang pensiun saja tentu tidak cukup untuk menyekolahkan ketiga anak saya sampai mereka semua mendapatkan gelar sarjana (S1). Selain itu saya juga berusaha untuk tinggal di daerah Kebun Jeruk Jakarta Barat. Oleh karena itu saya harus menjual rumah yang di Bogor, di Taman Surya Buana Ciledug dan di Taman Ayu Karawaci. Berarti saya hanya memiliki tiga rumah, yang di Cirendeu, Metro Permata dan Kebun Jeruk.
Dengan kisah di atas sebagai latar belakang, saya mau menceritakan bagaimana setelah semua anak-anak saya tamat dari Perguruan Tinggi dan bekerja, kondisi keuangan saya mulai terkikis. Memasuki tahun 2009 kondisi kuangan saya menunjukkan grafik yang rendah, walaupun tidak sampai minus. Saat itu anak bungsu saya yang baru saja bekerja setelah tamat dari Perguruan Tinggi di 2007, minta untuk dibelikan mobil. Kami mencoba menjual rumah yang ada di Metro Permata, tetapi setelah memasang iklan selama berbulan-bulan tidak ada yang berminat untuk membeli untuk harga yang kami minta.
Pada kondisi seperti ini, saya diperhadapkan dengan situasi dimana ada saja keluarga dan kenalan yang meminta bantuan, apakah berupa pinjaman ataupun sebagai bantuan sumbangan. Dalam hal ini kami selalu berusaha untuk bisa membantu sesuai kemampuan yang ada. Dan dalam situasi seperti ini biasanya Tuhan memberi ujian yang lebih berat.
Di gereja tempat saya beribadah dan melayani, ada satu keluarga yang kondisinya sangat memprihatinkan. Mereka tadinya dari keluarga cukup berada, tetapi akibat krisis moneter 1998, kondisi ekonominya merosot sampai akhirnya harus tinggal di rumah petakan. Bahkan pernah hanya makan sekali saja dalam sehari. Beberapa jemaat awalnya ada yang mau membantu, tetapi lama-lama mereka merasa “capek” untuk membantu. Malah ada yang mengatakan bahwa membantu mereka sama juga seperti menuang air di pasir. Tidak akan pernah bisa membantu mereka dari kesulitannya.
Ketua Majelis Jemaat pun tidak menunjukkan keinginan untuk mendorong jemaat membantu keluarga ini. Saya khawatir mereka menerapkan mentalitas kelangkaan (perhatikan ciri-ciri mentalitas kelangkaan seperti kepelitan) sehingga mereka mencari pembenaraan atas ketidak inginan dalam memberi.
Melihat kondisi keluarga ini, saya dan istri memutuskan untuk tidak membiarkan mereka tidak bisa makan sehari-harinya. Dengan segala keterbatasan kami, karena rumah di Metro Permata belum juga laku terjual dan tabungan sudah habis, kami tetap berusaha untuk memberikan bantuan sebisa kami. Sekalipun selalu dikatakan oleh keluarga tersebut pemberian ini sebagai pinjaman, tetapi kami memberikannya dengan asumsi untuk tidak bisa dikembalikan, alias dengan rela kami berikan. Hal seperti ini berjalan selama berbulan-bulan di tahun 2009.
Semua bantuan ini kami lakukan tentunya dengan hidup berhemat seperti tidak mencari supir baru ketika supir lama minta berhenti, mengurangi makan di luar dan mengurangi belanja untuk hal-hal yang masih bisa ditunda. Bahkan sampai-sampai istri saya tidak membeli pakaian baru selama satu tahun itu. Akibatnya istri saya mengundurkan diri dari beberapa kumpulan atau arisan karena kurang nyaman kalau hanya menggunakan baju yang itu-itu saja.
Setelah ujian yang paling berat selama hidup saya di tahun 2009 itu, pintu rejeki mulai terbuka pada awal 2010. Rumah kami di Metro Permata laku kami jual. Kami bisa membeli mobil second untuk anak bungsu kami, bahkan sebagian bisa kami tabung untuk kemudian kami pakai sebagai uang muka untuk anak-anak kami mencicil unit apartemen. Kami memaksa mereka untuk membeli unit apartemen secara kredit. Saya secara sengaja “menciptakan” kondisi “kepepet” bagi anak-anak kami. Dan masih ada sedikit sisa untuk ditabung oleh istri saya. Kebetulan kami bisa menabung di satu koperasi yang sehat dan memberi tingkat bunga simpanan yang relatif tinggi, yaitu 18% per tahun (saat posting ini ditulis, bunganya sudah diturunkan menjadi 13% per tahun, yang menurut saya masih relatif menarik)
Bahkan, awal tahun 2011 saya mendapat kepercayaan menjadi Komisaris Independen di salah satu Multi Finance yang mau listing (IPO) di Pasar Modal. Selain itu istri saya juga mendapat kesempatan untuk bekerja di koperasi yang saya sebutkan di atas dan memiliki prestasi yang sangat bagus. Anak-anak kami pun mendapat pekerjaan atau jabatan yang lebih baik di tempat kerjanya.
Menurut iman kristiani, kebaikan kita tidak boleh diceritakan, karena apa yang dihargai oleh manusia, tidak akan mendapat penghargaan dari Tuhan. Matius 6:1-4 mencatat sebagai berikut:
- Jangan menjalankan kewajiban keagamaan kita di hadapan orang, karena kita tidak akan beroleh upah dari Tuhan.
- Jika memberi sedekah dengan tangan kanan, tangan kiri tidak boleh tahu. Maksudnya jangan dipamerkan untuk mendapat pujian, jadi orang lain tidak perlu tahu.
- Jika perbuatan kita dipuji orang, maka kita sudah mendapat upahnya. Tapi jika dilakukan dengan tersembunyi, maka Tuhan akan membalasnya.
Tetapi, demi untuk memberi contoh dari mentalitas kelimpahan dalam bab ini, saya rela untuk kehilangan “upah” dari Tuhan atas apa yang saya ceritakan mengenai apa yang sudah saya lakukan di masa lalu, karena saya percaya saya akan mendapatkan balasan yang jauh lebih baik dari Tuhan, apabila dengan menuliskannya dalam buku ini ada yang menjadi lebih sukses dan lebih sejahtera setelah memahami dan menerapkan semua rahasia yang saya tuangkan dalam blog ini.
Untuk mengaplikasikan mentalitas kelimpahan ini, Anda tidak boleh menggunakan matematika dunia. Jangan menunggu kondisi Anda berlebihan baru berbagi dengan sesama. Jangan pernah berpikir bahwa bantuan Anda itu akan sia-sia saja atau berpikir bahwa Anda akan terus menerus diporoti oleh orang-orang yang tidak mampu keluar dari kemiskinannya. Percayalah tidak ada ujian yang tidak ada akhirnya. Tidak ada kesukaran dan kesusahan yang akan berlangsung selamanya.
Adalah jelas bahwa memiliki mentalitas kelimpahan jauh lebih baik dibandingkan memiliki mentalitas kelangkaan.
Manfaat dari mentalitas kelimpahan tidak terbatas. Jika Anda percaya mengenai kelimpahan, maka mentalitas ini akan membantu Anda mencapai tujuan yang Anda inginkan.
Apa inti dari yang saya lakukan adalah sebagai berikut:
- Saya lebih banyak meluangkan waktu untuk bergaul dengan orang yang lebih susah dari saya. Ketahuilah bahwa ketika Anda meluangkan waktu dengan orang-orang yang kurang beruntung dari Anda, Anda akan mendapatkan perspektif atau cara pandang baru yang unik. Mengetahui ada banyak orang yang kurang beruntung dibandingkan diri Anda, di dalam diri Anda akan muncul perasaan terima kasih kepada Tuhan atas anugerah-Nya, tapi bukan karena ketidakberuntungan orang lain. Perasaan bersyukur ini secara langsung berkaitan dengan mentalitas kelimpahan. Fokuslah pada apa yang Anda miliki, bukan pada apa yang tidak Anda miliki. Hal ini akan meningkatkan kesadaran Anda tentang bagaimana kehidupan ini benar-benar baik kepada Anda. Kelimpahan adalah keadaan pikiran, bukan realitas fisik.
- Saya membatasi diri untuk bergaul dengan orang-orang yang suka mengeluh dan bisanya hanya mengkritik. Sikap negatif itu menular. Ketika seseorang di dekat Anda mengeluh, Anda mungkin tertular dengan pola pikir negatif. Ketika Anda bergaul dengan orang-orang yang suka mengeluh, maka secara sosial hal itu akan membuat Anda melepaskan tanggung jawab pribadi Anda. Tidak hanya itu, keluhan mereka akan menciptakan ilusi kelangkaan dalam diri Anda.
- Saya melihat gambaran besarnya. Kita semua memiliki semacam "tunnel vision" atau kacamata kuda dalam kehidupan ini. Kita menghabiskan begitu banyak waktu, tapi hanya untuk diri kita sendiri. Kita melihat dunia melalui filter tertentu yang diciptakan oleh pengalaman hidup kita yang unik. Filter yang pada dasarnya penting ini, bisa membuat kita melihat banyak kelangkaan yang sebenarnya tidak pernah ada. Misalnya, jika Anda dibesarkan di keluarga miskin, Anda mungkin terprogram untuk percaya bahwa hanya orang-orang kaya yang mampu untuk melakukan wisata baik dalam negeri maupun luar negeri. Dan ini tampak seperti sebuah keyakinan yang sangat rasional. Padahal hal itu tidak benar, karena ada orang yang mendapat pekerjaan untuk berwisata, seperti pemandu wisata, atau dibayar untuk pergi keluar negeri yang jauh, seperti pramugari atau pramugara. Ada juga yang bisa melakukan perjalanan keliling dunia secara gratis, seperti halnya wartawan atau penulis buku yang menawarkan kepada perusahaan penerbangan yang dikendarai, hotel tempat menginap dan rumah makan yang dikunjungi akan memasukkan rekomendasinya dalam buku atau blog yang akan ditulisnya dan dibaca oleh banyak orang. Saya sendiri sudah pernah mencoba untuk menerobos keyakinan yang salah ini dan saya berhasil. Kesaksian pribadi itu telah saya ceritakan di bab awal.
Tuhan kiranya memberkati Anda yang mengunjungi blog ini dengan hikmat berkelimpahan.
Baca juga tulisan saya mengenai Memberi Untuk Kaya.
Baca juga tulisan saya mengenai Memberi Untuk Kaya.
