Pada tanggal 1 Desember 1947, di sebuah dusun bernama Sibulele (tidak ada di peta), di tepian danau Toba, lahir seorang bayi laki-laki dari garis keturunan Tuan Sihubil. Bayi itu adalah anak pertama dari pasangan suami istri F. Tampubolon dan E. boru Siregar. Sedangkan Sibulele adalah sebuah kampung kecil di pinggir kota Balige (bukan Belgia).
Beberapa bulan setelah dilahirkan, bayi itu menderita sakit malaria. Terpaksa bayi itu dirawat inap di sebuah rumah sakit dimana dokter dan perawatnya yang mendapat didikan Belanda, merawatnya secara ketat, sehingga ibunya pun tidak boleh menginap. Karena sang ibu diperlakukan sebagai tamu yang hanya boleh melihat si bayi pada jam besuk, akhirnya nekat "mencuri" bayi itu dari rumah sakit. Akibatnya, bibit malaria terus mengidap di dalam tubuh si bayi. Kebetulan tidak lama sesudah itu ayah si bayi, diterima bekerja di Tambang Arang Bukit Asam (TABA) di Tanjung Enim Sumatera Selatan.
Sejak itu, si bayi bertumbuh menjadi besar di Tanjung Enim dengan kondisi kesehatan yang tidak terlalu prima. Harus sering berobat ke Rumah Sakit. Bahkan sejak kecil menderita sakit amandel. Masuk Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Akibat sakit amandel yang mudah kambuh, si bayi yang menjadi remaja ini, memiliki rapor dengan nilai berwarna merah yang cukup banyak. Beberapa kali nyaris tidak naik kelas, dan bahkan di SMP pernah tidak naik kelas.
Rapor kelas 5 dan kelas 6 yang ada angka 4 dan banyak angka 5 nya.
Tidak ada yang istimewa dari sosok yang diceritakan di atas, kecuali bisa menikmati masa kecil yang bahagia, bisa berenang di sungai yang airnya masih jernih, main di hutan seperti Tarzan bergantungan di akar-akar pohon yang masih liar sekitar 3 kilometer di belakang rumahnya.
Itulah kisah pemilik blok ini.
Selanjutnya:
- Masa Remaja
- Masa Kuliah
- Sebagai Staf Bank
Baca juga:
- Mestakung - Semesta Mendukung
Selanjutnya:
- Masa Remaja
- Masa Kuliah
- Sebagai Staf Bank
Baca juga:
- Mestakung - Semesta Mendukung
