Dulu untuk menjadi staf di bank, para calon staf harus mengikuti pendidikan setingkat pewira polisi. Si pemuda dalam kisah sebelumnya dalam proses menjadi pegawai bank, wajib mengikuti pendidikan SESKOPOL di Pasar Jumat selama 3 bulan. Di sana para calon staf bank, sebanyak 30 orang, dididik mengenai kedisiplinan, kerja sama, ketahanan dan pertahanan, menembak, baris berbaris, tentang uang palsu, tanda tangan palsu, dan banyak yang lainnya.
Sebagai staf tanpa dasi, karena hanya lulusan Sarjana Muda Akuntansi berpangkat 2C, si staf ini awalnya ditempatkan di Biro Pengawasan (satuan kerja audit internal) sebagai junior auditor. si staf bank ini bekerja sebagai junior auditor selama 2 tahun. Banyak yang dipelajari dan dialami. Jadilah dia sebagaimana yang dikenal dengan istilah "jack of all trade." Tahu banyak hal, tetapi hanya kulit-kulitnya saja.
Ketika ijasah Sarjana Ekonomi (jurusan akuntansi) diperoleh pada tahun 1997, si staf bank ini tidak langsung disesuaikan. Ketika menyampaikan ijasah ke bagian Personalia, dijelaskan bahwa belum ada lowongan, dan karenanya diijinkan untuk melamar kerja di tempat lain dengan ijasah S1 tersebut. Ternyata si staf bank ini lulus ujian saringan di Bank Indonesia (BI). Oleh Kepala Bagian Personalia BI diberitahu bahwa tunggu proses perekrutan selesai, baru minta berhenti dari BankExim, supaya tidak terkesan bajak membajak pegawai antar bank. Perlu diketahui bahwa pada saat itu Akuntan masih sedikit, dan sering terjadi bajak membajak pegawai antar bank.
Tanpa setahu si staf, ternyata BankExim merencanakan untuk membuka sebuah Biro baru untuk menangani Kredit Perkebunan Besar Swasta, dan membutuhkan seorang akuntan dari internal. Dan, pada saat itu di Bagian Personalia ada satu ijasah yang baru masuk, yaitu ijasah si staf bank itu. Pada saat akan diproses, ada telepon dari Bank Indonesia, yang menyatakan bahwa mereka akan meminta si staf untuk bekerja di Bank Indonesia, karena belum dimanfaatkan di BankExim. Ternyata, terjadi pergantian Kepala Bagian Personalia di Bank Indonesia, dan pejabat yang baru ini tidak menyadari akan adanya aturan tidak tertulis untuk tidak membajak pegawai bank lain.
Karena kasus tersebut, si staf hampir saja diberhentikan dari BankExim. Kalau statusnya di PHK, maka Bank Indonesia tidak boleh merekrutnya. Ketika diberi pilihan apakah akan tetap di BankExim atau di Bank Indonesia, si staf memilih tetap di BankExim.
Jadilah si staf bertugas di Biro Kredit Perkebunan Swasta Nasional selama 3 tahun, dengan jabatan sebagai Kepala Gugus Keuangan, dan dengan pangkat 3B. Naik dari 2C ke 3B, tanpa pernah memiliki pangkat 3A. Dengan bekal posisi yang baru ini si staf berani menikah dengan seorang gadis dari kota Medan.
Di Biro ini, si staf berhasil menciptakan sebuah pola menilai 5C (character, capacity, capital, collateral, conditions) hanya dengan menilai Laporan Keuangan yang diaudit oleh akuntan publik untuk 3 tahun terakhir.
Tetapi, ada salah satu nasabah kenalan Direktur Utama yang meminta kredit untuk perkebunan kopinya di daerah Malang Jawa Timur yang kreditnya hanya disetujui separuh saja oleh si staf, karena memang kapasitas kebunnya hanya membutuhkan separuh saja dari kredit yang diminta. Bahkan terinformasi bahwa apabila kredit disetujui seluruhnya, maka dana itu akan dipakai untuk membeli kebun kopi di Timor Timur (sekarang Timor Leste).
Entah apa yang dilaporkan oleh si nasabah kepada Direktur Utama pada waktu itu, si staf ini dipindah ke kantor cabang Jayapura. Bahkan ada teman yang mendengar dari Kepala Bagian Pendidikan, bahwa si staf "dihukum" dan "dibuang" ke kantor cabang Jayapura.
Tetapi si staf melihat hal itu sebagai "jalan" Tuhan dalam memperlengkapi pengetahuan dan pengalaman si staf. Buktinya, suami dari kakak dari istri si staf (sekeluarga) dipindah ke Jayapura beberapa bulan sebelum si staf dan keluarga dipindah ke Jayapura, sebagai Kepala Kantor Pajak di Jayapura. Dengan demikian si istri tidak merasa sendirian di kota Jayapura. Sementara si staf jadi belajar lebih dalam mengenai operasional cabang dalam negeri.
Di tahun ke dua di Jayapura, si staf sedang duduk di teras rumah sambil memandang lautan yang dapat dilihat dari rumah dinasnya di dok V Jayapura. Ketika melihat pemandangan yang indah itu, di dalam pikiran si staf muncul sebuah kesimpulan "kalau Jayapura terlihat indah itu berarti sudah dekat pindah." Tidak lama dari itu seperti ada bisikan di telinga sebanyak 2x, kata-kata "luar negeri."
Beberapa minggu dari peristiwa itu, ada telex masuk ke cabang, yang meminta si staf segera berangkat ke Jakarta. Telex diterima hari sabtu, dan perintah di dalam telex, si staf harus sudah ada di Jakarta pada hari Senin. Ternyata, begitu sampai di Jakarta dinyatakan bahwa status si staf dipindah dari Jayapura ke Kantor Pusat di Jakarta untuk mengikuti pendidikan Komputer (mulai dari analisa sistem, programming) dan Bahasa Inggris, sehubungan dengan adanya rencana tugas belajar mengenai Computer Audit di New Zealand. Si staf yang harus mengikuti pendidikan yang jadwalnya ketat, tidak mungkin kembali ke Jayapura untuk menjemput istri dan kedua anaknya.
Terpaksa istri dan 2 anak ditinggal dulu di Jayapura, karena tidak mungkin langsung ikut pindah. Tetapi si istri tidak merasa takut, karena ada kakak perempuannya yang suaminya masih bertugas sebagai Kepala Pajak di Jayapura.
Sejak itu si staf terus bertugas di Kantor Pusat, mulai dari Kepala Bagian Komputer Audit, lalu dipindah ke Biro Sistem dan Teknologi untuk memperbaiki seluruh manual di bank yang harus di-update sehubungan dengan mulai digunakannya komputer.
Sebuah peristiwa yang menarik dan menentukan dalam hidup si staf, yaitu ketika Kepala Biro Personalia (yaitu Bapak Taryadi yang saat itu sedang bersama-sama dengan Bapak Achyadi yang sedang menjabat sebagai Kepala Biro Perkebunan), menanyakan apakah mau dipindah ke cabang untuk menjadi pimpinan di cabang dalam negeri. Si staf menolak, dan mengajukan usulan kalau bisa ditempatkan di cabang luar negeri, walaupun bukan sebagai pimpinan. Oleh Kepala Biro Personalia, dikatakan bahwa untuk itu penempatan pejabat di cabang luar negeri menjadi kewenangan dari Direksi. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1990.
Sejak saat itu, si staf selalu menyampaikan keinginannya untuk ditempatkan di kantor cabang luar negeri ke siapa saja yang ditemuinya. Bahkan pada kesempatan bisa bertemu Direktur yang membidangi cabang-cabang luar negeri, keinginan itu disampaikan. Tetapi oleh sang Direktur, keinginan itu ditolak, dengan alasan si staf belum pernah menjadi pimpinan di kantor cabang dalam negeri, bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus (walaupun sudah belajar di New Zealand), dan saat ini sudah berada di jalur back-office, yang artinya akan tetap di jalur ini sampai pensiun.
Mendengar penolakan ini, istri si staf ikut mendukung impian si suami (tadinya si istri tidak mau ikut kalau memang dipindah ke luar negeri), yaitu dengan menyampaikannya kepada Tuhan. Karena kalau Direktur yang berwenang sendiri tidak bisa memenuhi keinginan itu, maka hanya Tuhan yang bisa melakukannya.
Tanpa setahu siapapun (kecuali Tuhan), kantor cabang di New York diperiksa oleh otoritas di sana, dan dinyatakan sebagai statusnya buruk (poor), karena semua manual tidak pernah di-update sejak cabang dibuka, laporan akuntansi sering salah, kredit macet tinggi, dan beberapa catatan lain mengenai kualitas SDM. Apabila tidak segera diperbaiki maka kantor cabang itu harus ditutup.
Menerima surat itu, Direksi melakukan rapat khusus, yang hasilnya meminta Biro Personalia mencari pejabat yang cukup senior (IVA ke atas) yang memiliki pengalaman antara lain audit, akuntansi, kredit, IT, kemampuan membuat manual.
Menurut teman di Biro Personalia, yang keluar hanya 1 nama, yaitu si staf yang pernah "terbuang" ke Jayapura dan "dibuang" ke back-office untuk mengurusi manual bank.
Akhirnya, pada bulan September 1993, berangkatlah si staf dengan istri dan 3 anaknya + seorang keponakan (permit sebagai pembantu), menuju kota New York dan bermukim di sana selama 4 tahun.
Pelajaran apa yang ditarik dari pengalaman hidup si staf ini?
Baca juga:
- Masa Kecil
- Masa Remaja
- Masa Kuliah
- Mental Kelimpahan
Sejak saat itu, si staf selalu menyampaikan keinginannya untuk ditempatkan di kantor cabang luar negeri ke siapa saja yang ditemuinya. Bahkan pada kesempatan bisa bertemu Direktur yang membidangi cabang-cabang luar negeri, keinginan itu disampaikan. Tetapi oleh sang Direktur, keinginan itu ditolak, dengan alasan si staf belum pernah menjadi pimpinan di kantor cabang dalam negeri, bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus (walaupun sudah belajar di New Zealand), dan saat ini sudah berada di jalur back-office, yang artinya akan tetap di jalur ini sampai pensiun.
Mendengar penolakan ini, istri si staf ikut mendukung impian si suami (tadinya si istri tidak mau ikut kalau memang dipindah ke luar negeri), yaitu dengan menyampaikannya kepada Tuhan. Karena kalau Direktur yang berwenang sendiri tidak bisa memenuhi keinginan itu, maka hanya Tuhan yang bisa melakukannya.
Tanpa setahu siapapun (kecuali Tuhan), kantor cabang di New York diperiksa oleh otoritas di sana, dan dinyatakan sebagai statusnya buruk (poor), karena semua manual tidak pernah di-update sejak cabang dibuka, laporan akuntansi sering salah, kredit macet tinggi, dan beberapa catatan lain mengenai kualitas SDM. Apabila tidak segera diperbaiki maka kantor cabang itu harus ditutup.
Menerima surat itu, Direksi melakukan rapat khusus, yang hasilnya meminta Biro Personalia mencari pejabat yang cukup senior (IVA ke atas) yang memiliki pengalaman antara lain audit, akuntansi, kredit, IT, kemampuan membuat manual.
Menurut teman di Biro Personalia, yang keluar hanya 1 nama, yaitu si staf yang pernah "terbuang" ke Jayapura dan "dibuang" ke back-office untuk mengurusi manual bank.
Akhirnya, pada bulan September 1993, berangkatlah si staf dengan istri dan 3 anaknya + seorang keponakan (permit sebagai pembantu), menuju kota New York dan bermukim di sana selama 4 tahun.
100 Wall Street, kantor dimana saya boleh memimpin selama 4 tahun.
Pelajaran apa yang ditarik dari pengalaman hidup si staf ini?
- Tuhan bisa mengubah rancangan yang buruk atas diri Anda menjadi kebaikan. (Referensi kata-kata Yusuf di Mesir: Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni ...." (Kej 50:20).
- Ketika pasangan hidupmu (suami atau istrimu) ikut mengimani impian pasangannya, maka kemungkinan impian itu berwujud menjadi semakin besar. (Referensi mengenai Sarah yang ikut beriman untuk punya anak dari Abraham: "Through faith also Sara herself received strength to conceive seed, and was delivered of a child when she was past age, because she judged him faithful who had promised." (Ibrani 11:11 dalam bahasa Inggris).
- Tuhan akan menggerakkan alam semesta dan isinya (termasuk orang lain) untuk ikut mendukung pemenuhan impian Anda. Peristiwa ini sebelum buku MESTAKUNG (Semesta Mendukung) karangan Prof. Yohanes Surya diterbitkan, mau membuktikan bahwa konsep MESTAKUNG itu bisa berlaku pada Anda.
Baca juga:
- Masa Kecil
- Masa Remaja
- Masa Kuliah
- Mental Kelimpahan
