Setelah belasan tahun berlalu si bayi bertumbuh menjadi remaja. Beberapa bulan menjelang ujian SMP, satu keluarga yang menjadi tetangga si remaja ini harus pindah ke Surabaya. Anaknya yang kebetulan teman sekelas si remaja, tidak bisa ikut karena harus mengikuti ujian. Teman ini (Bambang Hari Subagio), dititipkan di keluarga si remaja, dengan janji kalau keduanya lulus, maka si remaja akan diajak untuk melanjutkan sekolah ke SMA di Surabaya.
Si remaja yang kampungan ini membayangkan seperti apa kira-kira kota Surabaya itu. Tetp saja nalarnya tidak bisa membayangkannya. Apalagi si remaja ini lebih menyukai fantasi dari Karl May yang dituangkan di dalam buku berjudul "Winnetou" dengan sahabatnya "Old Shatterhand."
Peristiwa di atas, turut menentukan nasib si remaja di kemudian hari.
Ternyata keduanya lulus ujian, dan berangkatlah keduanya ke Surabaya. Si remaja kemudian ikut tinggal bersama keluarga temannya ini. Keduanya mendaftar di SMA Negeri 1 (SMAN 1) jalan Wijaya Kusuma. Apabila selama di Tanjung Enim, si remaja cukup berjalan kaki pergi sekolah (SD maupun SMP), di Surabaya, dia harus naik sepeda (mancal).
Sebagai orang yang hobinya membaca buku, si remaja ini terperangkap dengan buku-buku silat seperti karangan Gan KL atau Kho Ping Ho, dan lainnya. Sampai di minggu-minggu menjelang ujian, si remaja yang prestasi di SD dan SMP hanya di rata-rata (mediocre) ini, tetap saja tidak belajar dan asik membaca buku silat yang selalu berambung itu. Bahkan sering si remaja ini membaca sampai jam 1-2 pagi. Akibatnya, kembali nilai di raport tidak bagus. Memang si remaja ikut naik kelas, tetapi pada saat itu kalau nilai kimianya tidak 5, si remaja bisa masuk ke jurusan Pasti Alam (B). Si remaja cukup puas dengan jurusan Sosial (C) yang sering dipelesetkan sebagai S.O.S. ayau safe our soul.
Si remaja yang tidak punya impian mau jadi apa di kemudian hari, tidak terlalu perduli dengan pendidikannya. Tapi tetap mengingat kata-kata dari kakak perempuan temannya, yang mengatakan, jangan kuatir, nanti masuk saja jurusan akuntansi. Akuntan masih sedikit dan Indonesia masih kekurangan Akuntan. Demikian kata=kata penghiburannya.
Menjelang mengakhiri kelas 3 di SMAN 1 Surabaya, terjadi perkelahian antara murid-murid yang ikut organsasi IPI (ikatan pelajar indonesia) dan murid-murid yang ikut organisasi GSNI (gerakan siswa nasional indonesia), sekitar beberapa minggu sebelum G30S. Akibatnya pelajar terpecah 2, dan SMAN 1 dipecah menjadi SMA Negeri 9 (untuk siswa pengikut IPI) dan SMA Negeri 10 (untuk siswa pengikut GSNI). Si remaja yang tidak suka ikut organisasi (karena dengan beberapa temannya lebih suka main band), ikut masuk ke SMAN 10. Akibatnya, ijasah SMA yang dimiliki adalah ijasah SMAN 10. Padahal setelah pecahnya G30S, SMAN 10 itu dikembalikan menjadi SMAN 1. Selama bertahun-tahun tidak ada SMAN 10 di Surabaya, dan hanya beberapa orang yang memiliki ijasah SMAN 10 yang bersejarah itu.
Karena situasi setelah G30S kurang kondusif untuk perantau seperti si remaja itu, yang sedianya ingin melanjutkan kuliah di Universitas Airlangga, terpaksa dipanggil pulang oleh orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di Universitas Sriwijaya Palembang.
Baca juga:
- Masa Kecil
- Masa Kuliah
- Sebagai Staf Bank
- Mestakung
Baca juga:
- Masa Kecil
- Masa Kuliah
- Sebagai Staf Bank
- Mestakung
